Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Kalimantan semakin meluas pada Agustus 2026, dengan ribuan titik panas, kabut asap yang mengganggu aktivitas warga, serta kualitas udara yang membahayakan kesehatan. Data Kementerian Kehutanan menunjukkan 8.638 titik panas terpantau di Kalimantan pada 21 Agustus, sementara warga di Banjarbaru, Pontianak, dan Palangka Raya menghadapi gangguan pernapasan, aktivitas sekolah yang berubah, hingga ancaman kebakaran yang mendekati permukiman.
Ribuan Titik Panas Tersebar di Kalimantan
Dikutip dari Kompas.id, data situs Sipongi Kementerian Kehutanan mencatat 8.638 titik panas di Kalimantan pada Jumat, 21 Agustus 2026. Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan jumlah terbanyak, yakni 3.705 titik, disusul Kalimantan Tengah 3.081 titik, Kalimantan Timur 978 titik, Kalimantan Selatan 776 titik, dan Kalimantan Utara 98 titik.
Di Kalimantan Barat, Kabupaten Ketapang mencatat titik panas terbanyak dengan 1.749 titik. Sementara di Kalimantan Tengah, Kotawaringin Timur menjadi wilayah dengan jumlah titik panas tertinggi, mencapai 761 titik.
Kompas.id juga melaporkan luas karhutla di Indonesia pada Januari hingga Juli 2026 mencapai 202.010,96 hektare. Kalimantan Barat menyumbang 38.310,86 hektare, lebih luas dibandingkan total karhutla di provinsi tersebut sepanjang 2025 yang tercatat 26.702,81 hektare.
Banjarbaru Dikepung Kabut Asap Pekat
Menurut BBC News Indonesia, kondisi di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, menjadi salah satu gambaran paling jelas mengenai dampak karhutla terhadap kehidupan warga. Riri Jayanti, warga Landasan Ulin, bahkan membagikan foto kedua anaknya yang harus berangkat sekolah ketika kabut asap menebal.
Situasi tersebut membuat pemerintah daerah menyesuaikan jam belajar. Dinas Pendidikan Banjarbaru mengeluarkan surat edaran agar pembelajaran dimulai lebih siang ketika kabut asap masih tebal pada pagi hari.
Warga juga mulai merasakan dampak langsung terhadap kesehatan. BBC News Indonesia mencatat kasus ISPA di Banjarbaru meningkat sejak pertengahan Juni. Pada pekan ke-29 tercatat 829 kasus, kemudian meningkat menjadi lebih dari 1.000 kasus per pekan. Total kasus ISPA sejak Januari hingga pekan ke-32 Agustus mencapai 23.646 kasus.
Kualitas udara juga sempat berada pada kondisi berbahaya. Konsentrasi PM2.5 di Banjarbaru tercatat lebih dari 400 mikrogram per meter kubik pada dini hari 19 Agustus. Di beberapa wilayah, indeks polusi udara bahkan berada pada kisaran 170 hingga 480 mikrogram per meter kubik.
Api Mendekati Rumah dan Peternakan
Karhutla tahun ini juga menimbulkan kerugian ekonomi bagi warga. BBC News Indonesia melaporkan peternak ayam Abdul Kholik mengalami kerugian sekitar Rp50 juta setelah sebagian kandang dan 230 ekor ayam miliknya terbakar.
Api merambat ke sekitar peternakannya pada 19 Agustus. Angin kencang, cuaca panas, dan material atap berbahan rumbia membuat api cepat menyebar. Kholik mengatakan kandangnya sudah tiga kali terdampak kebakaran.
Istrinya, Sri Wahyuni, yang sedang hamil tiga bulan, juga mengalami sesak napas dan batuk akibat asap. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa karhutla telah menjadi persoalan yang langsung menyentuh kesehatan, tempat tinggal, dan sumber penghasilan warga.
Kabut Asap Ganggu Pontianak dan Palangka Raya
Di Pontianak, Kalimantan Barat, kabut asap juga mengganggu aktivitas masyarakat. Menurut BBC News Indonesia, kualitas udara pada 20 Agustus mencapai skor AQI 146 dan masuk kategori tidak sehat.
Pengemudi ojek online Fikri Adha Zulfansyah mengatakan kabut asap membuat matanya perih dan napas terasa berat. Jarak pandang di sejumlah ruas jalan turun hingga sekitar 200 meter.
Dampak ekonomi ikut terasa. Erniwati, penjaga lapak permainan anak di kawasan Tugu Digulis, mengatakan jumlah pengunjung menurun karena warga memilih berbalik arah setelah melihat kabut asap. Aktivitas pendidikan juga terganggu. Di Kubu Raya, pembelajaran masih dilakukan secara daring, sementara di Pontianak pembelajaran tatap muka kembali berlangsung dengan menyesuaikan kondisi udara.
Kompas.id melaporkan kabut asap dari Kalimantan Barat bahkan melintasi perbatasan hingga Sarawak, Malaysia. Kondisi udara yang tidak sehat membuat otoritas pendidikan Sarawak menghentikan sementara pembelajaran tatap muka di sejumlah wilayah pada 20 hingga 21 Agustus. Kebijakan tersebut berdampak pada 591 sekolah dan lebih dari 197 ribu siswa.
Di Palangka Raya, kabut asap juga masuk hingga ke rumah warga. BBC News Indonesia melaporkan seorang anak warga mengalami batuk selama sekitar dua pekan. Pemerintah kota kemudian menyesuaikan kegiatan sekolah. Murid PAUD diarahkan mengikuti pembelajaran secara daring, sedangkan siswa SD dan SMP mengalami perubahan waktu masuk sekolah.
Lahan Gambut Membuat Pemadaman Sulit
Menurut detikKalimantan, kebakaran hebat di hutan Lamandau, Kalimantan Tengah, dipengaruhi kondisi lahan gambut yang kering. Kondisi serupa menjadi tantangan utama bagi petugas pemadam di berbagai wilayah Kalimantan.
BBC News Indonesia melaporkan Pulau Kalimantan memiliki sekitar 4,5 juta hektare lahan gambut. Api dapat merambat hingga ke bawah permukaan tanah sehingga penyiraman dari permukaan saja tidak cukup.
Petugas Manggala Agni menggunakan metode suntik gambut dengan menyuntikkan air bertekanan tinggi ke dalam tanah. Mereka juga harus membawa pompa, peralatan pengeboran, dan perlengkapan lain melewati semak serta parit menuju lokasi kebakaran.
Fenomena El Nino Godzilla turut memperburuk kondisi. Kedalaman air tanah gambut yang normalnya sekitar 40 sentimeter di bawah permukaan disebut turun hingga sekitar 90 sentimeter. Kondisi gambut yang semakin kering membuat bahan mudah terbakar tersedia lebih banyak.
Prabowo Turun Langsung ke Lokasi Karhutla
CNBC Indonesia melaporkan Presiden Prabowo Subianto meninjau langsung salah satu wilayah yang terdampak kebakaran hutan pada Sabtu, 22 Agustus 2026. Prabowo menyusuri area yang dipenuhi kabut asap dan bertemu personel BPBD serta TNI yang bertugas di lapangan.
Dalam rapat penanganan karhutla, Prabowo meminta tambahan pompa air untuk memperkuat pemadaman. Pemerintah juga mengerahkan 10.700 personel di Kalimantan Tengah, 10 unit helikopter, dan enam unit water bombing.
Menurut BBC News Indonesia, pemerintah menyatakan operasi terpadu melibatkan sedikitnya 12.880 personel gabungan di tiga provinsi prioritas, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Personel tersebut berasal dari Manggala Agni, TNI, Polri, BNPB, BPBD, pemerintah daerah, relawan, masyarakat, dan unsur lainnya.
Kebakaran Pasar Sungai Duri Lumpuhkan Jalur Pontianak
Di tengah situasi karhutla yang meluas, kebakaran lain juga melanda kawasan Pasar Sungai Duri, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, pada Kamis malam, 20 Agustus 2026.
detik.com melaporkan lebih dari 30 ruko terdampak. Api mulai terlihat sekitar pukul 18.00 WIB di kawasan pertokoan yang berada di tengah permukiman padat. Angin kencang dan material bangunan berbahan kayu membuat api cepat menyebar hingga menyeberang ke bangunan di sisi lain jalan.
Ratusan personel dan puluhan mobil pemadam dikerahkan. Jalur nasional Pontianak-Singkawang kemudian ditutup karena kebakaran berada di sekitar kawasan pasar. Penutupan tersebut menyebabkan kemacetan panjang dan membuat akses transportasi utama kedua wilayah lumpuh.
Mitigasi Karhutla Masih Jadi Tantangan
Besarnya jumlah titik panas dan luas lahan terbakar menunjukkan bahwa penanganan karhutla masih menghadapi persoalan serius. BBC News Indonesia mencatat analisis Walhi untuk periode Januari hingga Juli 2026 menemukan 34.262 hotspot di Pulau Kalimantan dengan luas indikatif karhutla 33.837 hektare. Sekitar 74 persen hotspot dalam analisis tersebut berada di kawasan konsesi perusahaan.
Di lapangan, petugas masih harus menghadapi api yang muncul kembali setelah dipadamkan. Pada saat yang sama, warga harus beradaptasi dengan kabut asap, kualitas udara buruk, gangguan kesehatan, perubahan jam sekolah, serta terganggunya aktivitas ekonomi.
Data dan kesaksian dari BBC News Indonesia, CNBC Indonesia, detikKalimantan, Kompas.id, dan detik.com memperlihatkan satu pola yang sama. Karhutla di Kalimantan pada Agustus 2026 sudah berdampak luas, dari kawasan gambut dan permukiman hingga sekolah, jalan nasional, kesehatan masyarakat, dan aktivitas ekonomi.




0 Comments